SEJARAH SINGKAT LINGUISTIK DI TIMUR (ARAB)

Posted in Linguistik Arab with tags on Agustus 7, 2009 by id4n

Oleh: Wildan Taufiq, S.S.

IMG_0072Berbicara tentang linguistik Arab, tak bisa dipisahkan dari “nahwu” (yang sekarang masuk ke kajian sintaksis). Karena dalam ilmu tata bahasa Arab, ilmu inilah yang pertama kali mencapai kematangan dari segi epistemologis. Menurut Syauqi Dhaif,  dalam sejarah linguistik Arab (nahwu), terdapat beberapa madzhab (madrasah) nahwu, yaitu madzhab Bashrah, Kufah, Baghdad, Andalusia dan Mesir. Namun di sini, hanya akan disajikan tiga madzhab saja, yaitu madzhab Bashrah, Kufah, dan Andalusi, mengingat pengaruh dan kontribusi ketiga madzhab tersebut dalam bidang nahwu.

A. Madzhab Bashrah
Madzhab Basrah atau madrasah Bashrah adalah madzhab yang dirintis oleh ‘Anbasah, salah seorang yang disebut-sebut oleh Khalil bin Ahmad al-Farahidi, sebagai murid dan sahabat (ashbahi) Abu al-Aswad yang paling cerdas.  Kemudian setelah itu dilanjutkan oleh Maimun al-Aqran. Namun Abu ‘Ubaidah mengatakan bahwa Maimun adalah pelanjut setelah Abu al-Aswad. Kemudian setelahnya, barulah ‘Anbasah al-Fil, yang kemudian dilanjutkan oleh Abu Ishaq al-Khadhramiy.
Baca lebih lanjut

Al-Qur’an dan Sastra Arab Jahiliyah (Sebuah Kajian Intertekstualitas antara Kandungan Teks al-Qur’an dan Syair Jahiliyah)

Posted in semiotika with tags on Agustus 7, 2009 by id4n

Oleh: Wildan Taufiq
A. Pendahuluan
Al-Qur’an, turun dalam situasi di mana bahasa dan sastra Arab (jahiliyah) mencapai puncak kejayaan. Al-Qur’an tampil dengan berbahasa Arab, agar dapat dipahami oleh manusia pada waktu itu (Q.S. Yusuf:2). Para penyair ketika itu memiliki kedudukan yang sangat terhormat pada setiap kabilah, karena mereka dianggap sebagai penjaga martabat serta kehormatan kabilahnya. Dengan begitu mereka disanjung-sanjung setinggi langit oleh kabilahnya (Farukh, 1997: I: 75-76).

Perang pena antara penyair antar kabilah, telah membawa mereka kepada sebuah kompertisi syair yang di selenggarakan di suatu pasar yang disebut Ukazh (al-Iskandari & ‘Inaniy, tth: 12). Dari perang pena yang terjadi di Ukazh, lahirlah karya-karya sastra luhung yang lebih dikenal dengan sebutan “mu’allaqat”. Disebut mu’allaqat, karena syair yang terpilih menjadi yang terbaik – konon katanya – akan digantungkan di dinding ka’bah dan ditulis dengan tinta mas (Farukh, 1997: I: 75).
Baca lebih lanjut

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.